Pesta Menginap

Standard

Pesta Menginap (Sleep-Overs) ini bercerita tentang lima gadis SD bersahabat yang secara kebetulan namanya berurut sesuai abjad.

Amy. Bella. Chloe. Daisy. Emily.

Daisy anak baru di sana. Semula dia merasa takkan punya teman baik. Tapi keempat teman barunya begitu menyenangkan. Terutama Emily, dia sangatlah baik hati. Dan Daisy ingin sekali bisa menjadi sahabat dekat Emily.

Cerita diawali dengan Amy yang mengadakan pesta ulang tahun. Dan karena pesta menginap sedang populer, Amy berencana mengadakan pesta menginap ketika hari ulang tahunnya…. Serunya pesta menginap ini adalah kita bisa tidur lebih dari jam malam kita. 😀

Acara pesta menginap itu terus bergiliran. Dan tiap-tiap pesta selalu meriah dan menyenangkan. Daisy semakin menyukai teman-teman barunya. Namun dia merasa kurang nyaman jika berada di dekat Chloe.

Chloe gadis cantik dengan rambut pirang dan mata biru. Tapi dia tukang perintah dan selalu bikin kesal. Dia tidak menyukai Daisy. Dan selalu mengganggunya. Bahkan memanggilnya Daisy Dungu.

Dan ketika, Daisy enggan ikut serta mengadakan pesta menginap, Chloe mengolok-olok dirinya. Sebenarnya bukan karena Daisy tak ingin bikin pesta. Tapi dia malu terhadap rahasia terbesar yang selama ini berusaha disembunyikannya. Kakaknya.

Kakak Daisy sakit… dan akibat penyakitnya itu pikirannya jadi agak terbelakang. Walau Daisy sayang sekali terhadap kakaknya, dia tetap tidak berani membawa teman-temannya ke rumah. Terutama dia tidak berani menghadapi olokan Chloe…

Baca buku ini jadi ingat masa SD. Masa kita seru-seruan bareng temen. Dapat musuh. Dan suka iri-irian. Yah namanya juga anak kecil. ;D

Yang kusuka dari tokoh Daisy, dia selalu diam ketika diolok Chloe. Mungkin terkesan lemah, tapi tindakan dia yang diam aja mencerminkan bahwa ketika kita dihadapkan dengan situasi seperti itu ada baiknya kita diam dan bersikap pasrah. Karena walau bagaimanapun sabar adalah senjata ampuh dalam menghadapi segala masalah.
Pssst ini ternyata terjemahan Mbak Hetih loh 😀

Judul: Sleep-overs = Pesta Menginap
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9792203702

Advertisements

Putri Si Pembuat Kembang Api

Standard

Judul: Putri Si Pembuat Kembang Api
Judul Asli: The Firework-Maker’s Daughter
Penulis: Philip Pullman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
ISBN: 9789792232844
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Lila hanya tinggal bersama dengan ayahnya, Lalchand, yang merupakan si pembuat kembang api. Sejak kecil, Lila sudah sering dibawa ke bengkel pembuatan kembang api bersama ayahnya lantaran ia tidak ada yang menjaga. Oleh karena itu, Lila sudah terbiasa dengan desisan api, bau bubuk mesiu dan segala yang diperlukan untuk membuat kembang api. Lila sangat mencintai kembang api sampai ia bercita-cita ingin menjadi pembuat kembang api bersama ayahnya.

Namun sayang, pemikiran ayahnya tidaklah sama. Ayahnya tidak menyetujui cita-cita Lila yang ingin menjadi pembuat kembang api, maka ia pun tidak memberitahu Lila rahasia-rahasia wajib yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi pembuat kembang api.

Di tempat, Lila tinggal, terdapat seekor Gajah Putih yang merupakan milik kerajaan. Gajah Putih itu harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Harus diberikan selimut sutra, gadingnya harus dibungkus dengan daun emas. Dan kepercayaan orang di sana, jika mereka bisa menulis di tubuh gajah putih, maka keberuntungan akan menyertai mereka. Namun tidak ada yang tahu, bahwa si Gajah Putih, Hamlet, bisa bicara. Kecuali Chulak dan Lila yang mengetahui.

Dengan bantuan Chulak yang cerdik, Lila mendapat jawaban apa rahasia untuk menjadi seorang pembuat kembang api dari Lalchand. Yaitu mendaki Gunung Merapi untuk mencari Gua sang Angkara Api, lalu meminta Sulfur Bangsawan pada Sang Angkara Api. Namun kemarahan membutakan Lila, tanpa izin ayahnya, ia berangkat sendirian ke Gunung Merapi. Padahal ternyata ada rahasia yang mesti dibawa guna berhasil sampai ke Gua Angkara Api tersebut, dan Lila tidak mengetahuinya.

Kemudian atas usul Hamlet, Chulak dan Hamlet pun pergi menolong Lila.

Dalam buku ini, Philip Pullman memberitahukan bahwa ada 3 Bekal yang harus kita punya jika ingin berhasil dalam pekerjaan kita:

1. Bakat
2. Kegigihan
3. Nasib Baik

Bakat / kemampuan. Sudah jelas bukan bahwa dalam melakukan sebuah pekerjaan kita mesti mengetahui apa pekerjaan itu. Bukan sekadar mencemplungkan diri tapi kita tak punya kemampuan / pengetahuan dasarnya.

Kegigihan. Untuk mendapatkan segala sesuatu, harus ada usahanya. Bukan sekadar luntang-lantung menunggu hasil baik. Seperti Lila, dia begitu gigih menempuh perjalanan berbahaya demi menjadi pembuat kembang api.

Nasib baik. Semua hal yang dilakukan dengan kebaikan pasti akan mendapatkan kebaikan juga.

Ketiga hal itu akan membuahkan Kebijaksanaan.

Namun tak ada yang lebih berarti dari itu semua kalau tidak ditambah kecintaan kita terhadap pekerjaan itu sendiri….

Oh ya, kalimat awal di buku ini sudah membuat saya bertanya-tanya.
“Seribu mil yang lalu…”

apakah artinya? karena di kepala saya Mil itu adalah jarak. Apakah bisa digunakan sebagai hitungan waktu?

Namun terlepas dari itu, buku yang layak untuk dikoleksi.
4 bintang dari saya. Dan saya semakin menyukai Mr. Pullman =)

Wolf Totem

Standard

Judul: Wolf Totem
Penulis : Jiang Rong
Penerjemah: Rika Iffati
Penerbit : Hikmah Mizan
ISBN : 978-979-3714-65-3

Wolf Totem = Totem Serigala adalah sebuah buku semi autobiografi yang ditulis oleh Jiang Rong mengenai semasa hidupnya di sebuah Padang Rumput Mongolia, atau tepatnya di Olonbulag, Mongolia.

Dengan memperkenalkan diri sebagai Chen Zhen dalam buku ini, Jiang Rong mengupas tuntas misteri yang tersembunyi di Olonbulag dan bagaimana masyarakat Nomaden yang selalu berpindah tempat di alam liar tersebut bisa mempertahankan hidup mereka. Di buku ini kita juga diajak menyelami ajaran mistis para penduduk lokal Olonbulag mengenai kepercayaan mereka terhadap Dewa yang Agung, Tengger.

Para penduduk Padang Rumput percaya bahwa Tengger sang Pelindung mengirim Serigala sebagai utusanNYA. Dengan segala kecerdasan Serigala sebagai makhluk mistis, para penduduk belajar cara berperang, cara berpikir, dan cara bertahan hidup dari Serigala. Masyarakat Olonbulag, penghuni padang rumput sebagian besar adalah penggembala. Mereka menggembala domba, sapi dan kuda. Dengan hewan-hewan gembala tersebut hidup mereka tergantung pada kemakmuran Padang Rumput. Kendala yang mereka hadapi datang dari alam sekitar, terutama cuaca. Namun selain itu mereka juga harus menghadapi kendala dari hewan-hewan pemakan rumput lain, seperti Rusa, Marmot, dan Tikus. Di sinilah peran Serigala diperlukan. Serigala yang cerdas, gagah berani, dan buas membantu manusia mengontrol pertumbuhan populasi hewan-hewan merumput tersebut, hingga Padang Rumput masih menyisakan rumput segarnya untuk hewan gembalaan manusia.

Bagi Penduduk lokal, Serigala adalah hewan yang dipuja dan ditakuti. Kecerdikan Serigala yang telah mereka kenal selalu setia pada lingkungan dan kawanan mereka. Mereka adalah tentara perang yang tak kenal takut, mereka adalah Ibu dan Ayah yang teladan bagi anak-anak mereka. Ketentraman hidup manusia di Olonbulag bergantung pada ketentraman hidup Serigala mereka.

Read the rest of this entry