Category Archives: anak

Sang Bintang: Starring Tracy Beaker

Standard

Yay ini buku Jacqueline Wilson ketujuh yang kubaca. Harusnya sih ini ada buku pertamanya, tapi ternyata ceritanya ga nyambung sama sekali. Dan seperti buku-buku Madam Jacki lainnya, buku ini bikin trenyuh. Walau ditulisnya dengan gaya penuh semangat, tetap saja mataku berkaca-kaca pas bacanya.

Sinopsis: Tracy Beaker ingin sekali ikut bermain dalam drama di sekolahnya, A Christmas Carol, yang akan dipentaskan pada Hari Natal. Anak yang susah diatur ini mengira ia tidak bakalan kebagian mendapat peran, bahkan untuk menjadi anak gelandangan yang nakal sekalipun. Tapi lalu ia dipilih untuk menjadi pemeran utama.

Bisakah ia memerankan Ebeneezer Scrooge yang penggerutu dan pemarah?

Yah, ia mendapat sedikit bantuan dari Justine si Sangat-Menyebalkan Littlewood… Sementara Tracy mempersiapkan diri, Cam menolongnya menghafal dialognya. Tapi ia benar-benar ingin tahu apakah ibunya yang bintang film akan bisa datang dari Hollywood tepat pada waktunya untuk menontonnya bermain drama?

Sebenarnya ceritanya lebih dalam daripada seperti di synopsis. Tracy Beaker ini tinggal di panti asuhan tapi dia menyebutnya Tempat Pembuangan. Ibu Tracy adalah bintang Hollywood terkenal yang begitu sibuk hingga tak bisa merawat dirinya dan kemudian menitipkannya ke panti, atau begitulah kata Tracy. Suatu hari ada pemilihan drama natal di sekolah, Tracy berharap dia bisa ikut serta. Dan tak diragukan lagi dia terpilih sebagai pemeran utama. Tentu saja Tracy sangat senang, baginya ini adalah kesempatan untuk menunjukkan pada sang ibu bahwa dia bisa berakting. Dan karena dalam suratnya sang ibu berjanji akan datang ketika Natal, maka drama ini dia khusus tujukan untuk ibunya.

Lalu, ketika tiba saatnya membeli hadiah-hadiah natal, Tracy pun berbelanja bersama Cam, petugas sosial yang menemaninya di waktu-waktu libur. Seharusnya uang yang diberikan panti itu dipakai untuk membeli hadiah natal untuk teman-temannya, namun Tracy malah menghabiskannya untuk membeli hadiah ibunya. Tidak tanggung-tanggung, dia membeli 3 hadiah dan semua hadiah itu dia masukkan ke dalam 3 bungkus kado yang berbeda-beda dan kartu dengan gambar berbeda-beda, namun dengan isi pesan yang sama: dia ingin ibunya datang menonton drama sekolahnya.

Tapi sayang sekali, hari di mana dia menantikan ibunya datang, ternyata cuma harapan saja. Walau begitu Tracy tetap bermain dengan sangat bagus dan optimal.

Hiks sedih banget ketika semua bertepuk tangan buat penampilan Tracy yang memukau justru ibunya ga ada. Jadi ikutan nangis deh 😥

Lalu giliranku tiba. Aku berdiri di depan semuanya. Cam, Jenny. Mike, dan Elaine beridir lalu mulai bertepuk tangan. Miss Simpkins di pinggir panggung juga bertepuk tangan. Mrs. Darlow di bagian belakang aula juga bertepuk tangan terus. Para ibu dan ayah juga bertepuk tangan. Tapi mamaku tidak bertepuk tangan. Dia tidak di sini.

Tapi jujur, aku kagum dengan karakter Tracy Beaker ini. Dia penuh semangat dan selalu optimis, walau sedikit pemarah. 😀

Dan walau ibunya ga datang, Tracy tetap sayang padanya dan yakin kalau kesempatan berikutnya ibunya pasti datang. Semoga!

Semua anak mencintai ibunya. Itu yang pasti. Walau kita sering berbeda pendapat, sering bertengkar dengan ibu kita, tentu kita tetap menyayangi beliau, bukan? Dan jangan pantang menyerah, terus optimis karena kesempatan baik pasti akan datang pada kita.

*tepuk tangan buat Tracy Beaker*

Read the rest of this entry

Pesta Menginap

Standard

Pesta Menginap (Sleep-Overs) ini bercerita tentang lima gadis SD bersahabat yang secara kebetulan namanya berurut sesuai abjad.

Amy. Bella. Chloe. Daisy. Emily.

Daisy anak baru di sana. Semula dia merasa takkan punya teman baik. Tapi keempat teman barunya begitu menyenangkan. Terutama Emily, dia sangatlah baik hati. Dan Daisy ingin sekali bisa menjadi sahabat dekat Emily.

Cerita diawali dengan Amy yang mengadakan pesta ulang tahun. Dan karena pesta menginap sedang populer, Amy berencana mengadakan pesta menginap ketika hari ulang tahunnya…. Serunya pesta menginap ini adalah kita bisa tidur lebih dari jam malam kita. 😀

Acara pesta menginap itu terus bergiliran. Dan tiap-tiap pesta selalu meriah dan menyenangkan. Daisy semakin menyukai teman-teman barunya. Namun dia merasa kurang nyaman jika berada di dekat Chloe.

Chloe gadis cantik dengan rambut pirang dan mata biru. Tapi dia tukang perintah dan selalu bikin kesal. Dia tidak menyukai Daisy. Dan selalu mengganggunya. Bahkan memanggilnya Daisy Dungu.

Dan ketika, Daisy enggan ikut serta mengadakan pesta menginap, Chloe mengolok-olok dirinya. Sebenarnya bukan karena Daisy tak ingin bikin pesta. Tapi dia malu terhadap rahasia terbesar yang selama ini berusaha disembunyikannya. Kakaknya.

Kakak Daisy sakit… dan akibat penyakitnya itu pikirannya jadi agak terbelakang. Walau Daisy sayang sekali terhadap kakaknya, dia tetap tidak berani membawa teman-temannya ke rumah. Terutama dia tidak berani menghadapi olokan Chloe…

Baca buku ini jadi ingat masa SD. Masa kita seru-seruan bareng temen. Dapat musuh. Dan suka iri-irian. Yah namanya juga anak kecil. ;D

Yang kusuka dari tokoh Daisy, dia selalu diam ketika diolok Chloe. Mungkin terkesan lemah, tapi tindakan dia yang diam aja mencerminkan bahwa ketika kita dihadapkan dengan situasi seperti itu ada baiknya kita diam dan bersikap pasrah. Karena walau bagaimanapun sabar adalah senjata ampuh dalam menghadapi segala masalah.
Pssst ini ternyata terjemahan Mbak Hetih loh 😀

Judul: Sleep-overs = Pesta Menginap
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9792203702

Putri Si Pembuat Kembang Api

Standard

Judul: Putri Si Pembuat Kembang Api
Judul Asli: The Firework-Maker’s Daughter
Penulis: Philip Pullman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
ISBN: 9789792232844
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Lila hanya tinggal bersama dengan ayahnya, Lalchand, yang merupakan si pembuat kembang api. Sejak kecil, Lila sudah sering dibawa ke bengkel pembuatan kembang api bersama ayahnya lantaran ia tidak ada yang menjaga. Oleh karena itu, Lila sudah terbiasa dengan desisan api, bau bubuk mesiu dan segala yang diperlukan untuk membuat kembang api. Lila sangat mencintai kembang api sampai ia bercita-cita ingin menjadi pembuat kembang api bersama ayahnya.

Namun sayang, pemikiran ayahnya tidaklah sama. Ayahnya tidak menyetujui cita-cita Lila yang ingin menjadi pembuat kembang api, maka ia pun tidak memberitahu Lila rahasia-rahasia wajib yang harus dilakukan seseorang untuk menjadi pembuat kembang api.

Di tempat, Lila tinggal, terdapat seekor Gajah Putih yang merupakan milik kerajaan. Gajah Putih itu harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Harus diberikan selimut sutra, gadingnya harus dibungkus dengan daun emas. Dan kepercayaan orang di sana, jika mereka bisa menulis di tubuh gajah putih, maka keberuntungan akan menyertai mereka. Namun tidak ada yang tahu, bahwa si Gajah Putih, Hamlet, bisa bicara. Kecuali Chulak dan Lila yang mengetahui.

Dengan bantuan Chulak yang cerdik, Lila mendapat jawaban apa rahasia untuk menjadi seorang pembuat kembang api dari Lalchand. Yaitu mendaki Gunung Merapi untuk mencari Gua sang Angkara Api, lalu meminta Sulfur Bangsawan pada Sang Angkara Api. Namun kemarahan membutakan Lila, tanpa izin ayahnya, ia berangkat sendirian ke Gunung Merapi. Padahal ternyata ada rahasia yang mesti dibawa guna berhasil sampai ke Gua Angkara Api tersebut, dan Lila tidak mengetahuinya.

Kemudian atas usul Hamlet, Chulak dan Hamlet pun pergi menolong Lila.

Dalam buku ini, Philip Pullman memberitahukan bahwa ada 3 Bekal yang harus kita punya jika ingin berhasil dalam pekerjaan kita:

1. Bakat
2. Kegigihan
3. Nasib Baik

Bakat / kemampuan. Sudah jelas bukan bahwa dalam melakukan sebuah pekerjaan kita mesti mengetahui apa pekerjaan itu. Bukan sekadar mencemplungkan diri tapi kita tak punya kemampuan / pengetahuan dasarnya.

Kegigihan. Untuk mendapatkan segala sesuatu, harus ada usahanya. Bukan sekadar luntang-lantung menunggu hasil baik. Seperti Lila, dia begitu gigih menempuh perjalanan berbahaya demi menjadi pembuat kembang api.

Nasib baik. Semua hal yang dilakukan dengan kebaikan pasti akan mendapatkan kebaikan juga.

Ketiga hal itu akan membuahkan Kebijaksanaan.

Namun tak ada yang lebih berarti dari itu semua kalau tidak ditambah kecintaan kita terhadap pekerjaan itu sendiri….

Oh ya, kalimat awal di buku ini sudah membuat saya bertanya-tanya.
“Seribu mil yang lalu…”

apakah artinya? karena di kepala saya Mil itu adalah jarak. Apakah bisa digunakan sebagai hitungan waktu?

Namun terlepas dari itu, buku yang layak untuk dikoleksi.
4 bintang dari saya. Dan saya semakin menyukai Mr. Pullman =)