Stealing Heaven

Standard

My name is Danielle. I’m eighteen. I’ve been stealing things for as long as I can remember.

Dani has been trained as a thief by the best there is—her mother. They never stay in one place long enough for Dani to have real connections, real friends—a real life.

But in the town of Heaven, everything changes. Suddenly, Dani must question where her loyalties lie: with the life she’s always known—or the one she’s always wanted.

 

Danielle cuma tinggal bersama ibunya. Mereka selalu pindah-pindah tempat. Bahkan pas pindah, nama yang mereka gunakan selalu berbeda-beda. Ayah dan Ibu Danielle pisah setelah sang ayah dipenjara karena tertangkap basah ketika merampok sebuah rumah. Satu-satunya peninggalan yang diberikan sang ayah adalah Seni Mencuri. Itulah alasan Danielle dan ibunya sering berpindah tempat, mereka mencuri. Barang yang dicuri pun bukan barang sederhana, melainkan barang-barang mewah yang mereka curi dari rumah-rumah besar.

Akibat dari sering berpindah tempat Danielle jadi ga punya teman, ga juga bersekolah. Walau begitu, dia bisa membaca dan menulis karena ibunya mengajarinya sejak kecil.

Suatu hari Danielle dan ibunya pindah ke sebuah kota bernama Heaven. Walau Heaven merupakan kota kecil, tapi banyak sekali rumah-rumah mewah milik orang kaya yang berjejer di dekat pantai. Rencana awal sang ibu adalah mencari informasi mengenai rumah terkaya di Heaven. Setiap malam, Ibu Danielle ke bar dan kasino di dekat situ, memikat para pria untuk mendapatkan informasi sekaligus keuntungan lainnya, ga susah buat ibu Danielle yang punya daya tarik memesona. Sedangkan untuk Danielle, dia diperintahkan mencari informasi di tempat yang lebih mudah. Pantai.

Di pantai itu, Danielle yang menyaru dengan nama Sidney berkenalan dengan cewek bernama Allison dan kakaknya yang supertampan bernama James. Setelah kenal lebih jauh, Allison yang cerewet ternyata menyenangkan, Dani jadi ngebayangin bagaimana rasanya punya teman beneran, kayak yang selama ini dia inginkan.

Selain itu, waktu saat di supermarket, Dani juga berkenalan dengan cowok imut yang punya rambut berantakan. Cowok ini agak bikin Danielle agak jengkel karena dengan caranya yang khas, Greg, nama cowok itu, bisa aja bikin mereka selalu terlibat percakapan. Lucunya lagi Greg malah bikin jantung Dani gedebak-gedebuk ga jelas.

Lalu akhirnya, ibu Danielle punya rumah sasaran. Kediaman Donaldson. Konon rumah mewah bergaya kuno ini sudah berdiri sejak tahun 1920-an, dan selamat pas badai hurricane menghantam pantai. Dan tentunya rumah itu punya banyak harta yang bisa dijarah. Makanya ibu Dani nyuruh dia cari informasi tentang rumah itu. Tapi ga disangka-sangka, justru rumah yang bakal mereka rampok itu adalah rumah teman baru idaman Dani, Allison.

Jadi apakah Dani bakalan bantu ibunya ngerampok rumah teman barunya? Teman yang selama ini diidam-idamkannya?

Baca aja 😀

Ceritanya lumayan. Agak-agak bikin aku teringat Blue Remembered Heels-nya Nell Dixon dan Heist Society-nya Ally Carter, tentang geng pencuri juga. Cuma bedanya ini ibu dan anak.

Seperti biasa deh, Elizabeth Scott jago banget bikin cerita yang unik dan tokohnya yang juga unik, dan ending yang unik juga tentunya.

Yang aku suka dari buku ini adalah karakter Dani dan Greg.

Seru banget kalo baca dialog antara Dani dan Greg, setiap pertanyaan Greg selalu dijawab Dani dengan pertanyaan lagi. Tapi yang bikin aku lebih suka adalah chemistry di antara mereka. Dalam beberapa sisi, mereka sama. Dan entah bagaimana Greg kayaknya tahu banget penderitaan Danielle. Ahhh dan yang makin bikin suka, Dani cuma nyebutin nama aslinya yah sama Greg ini. Walau ga sengaja. 😀

Judulnya Stealing Heaven, awalnya kukira ini mencuri kebahagiaan atau semacam itu, tapi ternyata Heaven itu nama tempat. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Stealing Heaven atau mencuri kebahagiaan juga tepat. Karena di sini Danielle “mencuri” kebahagiaan yang gak pernah dia miliki. Endingnya sedih. 😥

Judul: Stealing Heaven

Penulis: Elizabeth Scott

Penerbit: HarperTeen

Advertisements

10 responses »

  1. Aah bukunya Elizabeth Scott! Pengen bacaaa 🙂 tapi lebih tertarik dgn bukunya yg depresi itu, Mo 😀 penasaran sepertinya gaya penceritaan Elizabeth ini perpaduan antara Laurie yg depresif dan Sarah Dessen yg murni drama ya? *sok tau*

  2. Iya kak bener banget. Cerita di buku2 Elizabeth Scott kebanyakan murni drama. Suka gaya ceritanya. Karakter tokohnya juga lovable. 😀
    Kalau mau baca yang depresi, baca Living Dead Girl deh kak. Hiks… favorite-ku itu.. kalo favorite zaizai yang Love You Hate You Miss You, itu juga depresi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s