After – Setelah Malam Itu

Standard

Devon Sky Davenport, 15 tahun adalah siswi teladan dan bintang sepak bola berbakat. Dia dikenal sebagai pribadi yang baik, tenang, dan dewasa. Namun suatu pagi, semuanya berubah. Di sebuah tong sampah dekat apartemen Devon, ditemukan seorang bayi baru lahir yang diikat dalam kantong plastik hitam. Bayi itu masih berlumuran darah dan masih hidup. Polisi yang menyelidiki kasus tersebut mendapati Devon membolos sekolah dan demam. Dan segera setelah melihat keadaan Devon yang juga berlumuran darah, kasus bayi tersebut langsung dikaitkan dengan Devon.

Setelah hari itu dan setelah mendapat pengobatan, Devon dimasukkan ke penjara. Menunggu persidangan yang akan menentukan dirinya bersalah atau tidak. Selama proses itu, Devon bertanya-tanya apa sebenarnya yang sudah dia lakukan. Ditambah dengan berbagai pertanyaan yang dilayangkan padanya oleh pengacaranya. Pertanyaan-pertanyaan yang Devon tidak tahu jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya jawabannya ada di dalam kepala tapi entah bagaimana tidak mau keluar sama sekali.

Pertama kali aku tertarik dengan buku ini adalah karena cover versi aslinya. Sosok gadis remaja yang sedang bersandar di cermin dan dalam pantulannya dia berperut buncit. Membaca judulnya After dan sinopsisnya, kupikir cerita ini berkisar pada gadis remaja dan permasalahan kehamilannya di luar nikah. Ternyata lebih berat dari itu…

Jujur pertama baca aku merasa kesal dengan sikap Devon yang terkesan “sengaja” melupakan bahwa dia sudah melakukan kejahatan. Tapi selama aku membaca ceritanya, aku semakin mengerti dan malah bertanya-tanya Apakah benar yang dilakukannya itu adalah suatu tindakan kejahatan? Devon mungkin terkesan bahwa dia sengaja. Devon mungkin terkesan sengaja bereaksi berlebihan setelah dia melahirkan dan membuang bayinya. Bahkan ketika sudah dipenjara, dia terkesan menutup-nutupi kebenaran sehingga membuat pengacaranya–begitu pula dengan aku–geram dan ingin sekali marah-marah…. Belum lagi alurnya yang serasa agak lambat, karena halaman demi halaman lompat-lompat dari kehidupan Devon di dalam penjara dan kehidupan Devon sebelum masuk penjara, lebih tepatnya sebelum penelantaran terjadi…

Di depan cover versi Gramedia Pustaka Utama tertulis Kisah emosional tentang penyangkalan dan memaafkan diri sendiri.

Benar. Buku ini adalah mengenai penyangkalan. Buku ini mengenai memaafkan diri sendiri.

Penyangkalan, seperti yang disebutkan salah satu tokoh di sini: dr. Bacon adalah mekanisme pertahanan diri. Dalam bahasa sederhana, merupakan kemampuan benak manusia untuk tidak mengakui sesuatu yang sebenarnya sungguh-sungguh terjadi. Itu cara pikiran kita mengontrol hal-hal tidak menyenangkan sehingga kita stres sepanjang waktu.

Coba kita lihat pada kehidupan Devon. Devon adalah anak tunggal yang dibesarkan oleh orangtua tunggal. Ibunya, Jennifer Davenport, melahirkan dia ketika masih remaja. Sendirian, putus asa, dan nekat. Devon menyadari kesusahan yang dialami dirinya dan ibunya didasarkan pada kecerobohan ibunya di masa remaja. Oleh karena itu Devon membangun suatu tembok di dalam diri yang berisi ketetapan hati bahwa dia tidak akan menjadi seperti ibunya.

Ketetapan hati itulah yang memicu penyangkalan Devon ketika dia melakukan hubungan seks. Dia merasa jengah. Dia merasa bahwa itu bukan dirinya. Dia merasa apa yang sudah dilakukannya itu amatlah salah…. Rasa bersalah terhadap diri sendiri pun terbentuk, dia berusaha melupakan bahwa kejadian itu pernah terjadi. Dia menyangkal terhadap diri sendiri bahwa dia pernah melakukan seks. Hingga ketika dia hamil, penyangkalan-penyangkalan itu terus berlanjut, Devon memblokir pikirannya mengenai kehamilan. Meyakinkan diri sendiri terus-menerus bahwa dia tidaklah hamil. Dan pada saat setelah melahirkan, dia terus meyakinkan dirinya bahwa ITU, makhluk kecil yang menjerit-jerit itu TIDAK ADA.

After yang diberi judul Setelah Malam Itu oleh Gramedia, adalah satu dari sekian banyak buku yang mencerminkan kasus yang dialami oleh sebagian besar remaja di dunia. Seperti yang kita sudah tahu dengan jelas. Masa remaja adalah masa awal di mana seseorang masuk ke tahap pendewasaan. Dalam tahap pendewasaan itu muncul berbagai perubahan penting, yang cukup jelas adalah perubahan secara fisik. Namun ada perubahan yang tak kalah pentingnya dalam tahap pendewasaan ini, yaitu perubahan secara mental. Perubahan secara mental ini didukung oleh berbagai situasi dan kondisi. Berbeda dengan perubahan fisik, perubahan mental haruslah didukung oleh peranan pihak lain. Yaitu orangtua dan juga lingkungan.

Jadi mau bagaimana lagi?? Masih mau cuek sama orang sekitar??

4 Bintang dariku…

Memaafkan orang lain itu perlu. Tetapi memaafkan diri sendiri itu yang paling penting.

Oh iya halaman 409 sampai 413 bikin aku menangis. ๐Ÿ˜ฅ Kenapa? baca aja. ๐Ÿ˜€

Judul: Setelah Malam Itu
Judul Asli: After
Penulis: Amy Efaw
Penerjemah: Nina Andiana
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792275650

Advertisements

6 responses »

  1. Waaah reviewnya bagus! Penasaran banget dgn buku ini. Mudah-mudahan Gramedia semakin banyak menerjemahkan buku remaja dgn masalah yg kompleks, bukan yg murni percintaan. Terkadang buku seperti ini lebih membuka pikiran ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s