Wolf Totem

Standard

Judul: Wolf Totem
Penulis : Jiang Rong
Penerjemah: Rika Iffati
Penerbit : Hikmah Mizan
ISBN : 978-979-3714-65-3

Wolf Totem = Totem Serigala adalah sebuah buku semi autobiografi yang ditulis oleh Jiang Rong mengenai semasa hidupnya di sebuah Padang Rumput Mongolia, atau tepatnya di Olonbulag, Mongolia.

Dengan memperkenalkan diri sebagai Chen Zhen dalam buku ini, Jiang Rong mengupas tuntas misteri yang tersembunyi di Olonbulag dan bagaimana masyarakat Nomaden yang selalu berpindah tempat di alam liar tersebut bisa mempertahankan hidup mereka. Di buku ini kita juga diajak menyelami ajaran mistis para penduduk lokal Olonbulag mengenai kepercayaan mereka terhadap Dewa yang Agung, Tengger.

Para penduduk Padang Rumput percaya bahwa Tengger sang Pelindung mengirim Serigala sebagai utusanNYA. Dengan segala kecerdasan Serigala sebagai makhluk mistis, para penduduk belajar cara berperang, cara berpikir, dan cara bertahan hidup dari Serigala. Masyarakat Olonbulag, penghuni padang rumput sebagian besar adalah penggembala. Mereka menggembala domba, sapi dan kuda. Dengan hewan-hewan gembala tersebut hidup mereka tergantung pada kemakmuran Padang Rumput. Kendala yang mereka hadapi datang dari alam sekitar, terutama cuaca. Namun selain itu mereka juga harus menghadapi kendala dari hewan-hewan pemakan rumput lain, seperti Rusa, Marmot, dan Tikus. Di sinilah peran Serigala diperlukan. Serigala yang cerdas, gagah berani, dan buas membantu manusia mengontrol pertumbuhan populasi hewan-hewan merumput tersebut, hingga Padang Rumput masih menyisakan rumput segarnya untuk hewan gembalaan manusia.

Bagi Penduduk lokal, Serigala adalah hewan yang dipuja dan ditakuti. Kecerdikan Serigala yang telah mereka kenal selalu setia pada lingkungan dan kawanan mereka. Mereka adalah tentara perang yang tak kenal takut, mereka adalah Ibu dan Ayah yang teladan bagi anak-anak mereka. Ketentraman hidup manusia di Olonbulag bergantung pada ketentraman hidup Serigala mereka.

Aku suka sekali dengan buku ini. Walau judulnya Wolf Totem, tapi kita tidak hanya disuguhkan mengenai cerita Serigala saja, buku ini juga mengenalkan kita pada hewan-hewan lain. Seperti kuda, anjing, marmot, rusa, angsa, bahkan nyamuk. Setiap bab petualangan Chen Zhen membuat kita seakan sedang menonton film mengenai hewan-hewan liar yang kita bahkan tidak pernah kenal. Di buku ini, aku jadi tahu bagaimana Kuda hidup, mereka memaksakan anak gadis mereka yang sedang birahi agar keluar dari keluarga untuk diperebutkan oleh para pejantan muda. Di buku ini aku juga jadi tahu bagaimana Rusa yang senang memakan rumput ini bisa lari secepat mungkin namun tidak cukup pintar untuk melarikan diri dari bahaya. Di buku ini juga aku jadi tahu mengenai nyamuk yang ganas sehingga tidak memedulikan nyawa nya sendiri hanya untuk memuaskan perut lapar mereka. Bahkan aku juga mengerti tentang anjing yang cerdas dan tahu bagaimana melaksanakan tugas dan kewajiban mereka tanpa peduli akan nyawa mereka.

Buku ini terlalu indah untuk disebut autobiografi dan telalu nyata untuk dibilang fiksi, karena memang bukan fiksi semata, buku ini adalah kisah perjalanan anak Cina Han yang pergi menuju Olonbulag untuk mengemban pendidikan ulang. Chen Zhen, yang begitu terkesima dengan kecerdasan Serigala yang membantai habis kuda-kuda perang, akhirnya dengan nekad menjarah sarang Serigala dan membawa kabur tujuh anak serigala. Dengan membunuh lima anak serigala, dan membesarkan salah satu dari dua yang hidup, Chen mempelajari bagaimana seekor Serigala bisa tumbuh sedemikian hebat dan cerdas walau tanpa bantuan induknya. Serigala Kecil kesayangannya itu menjadi pemicu sederetan konflik yang menentang tindakan Chen tersebut, terutama oleh Bilgee sang tetua yang dihormati penduduk setempat. Menurut Bilgee, memelihara seekor serigala sama saja penghinaan terhadap Tengger, karena Serigala adalah makhluk mulia dan terhormat yang tidak pantas diperlakukan seperti budak. Namun apa yang Chen lakukan disertai dukungan oleh Bao Shunghui pemimpin besar Brigade Padang Rumput.

Hanya saja, Revolusi Budaya yang ikut melanda di Olonbulag mengancam kelestarian hidup di Padang Rumput. Populasi manusia semakin membludak dan membuat mereka kekurangan lahan untuk hidup dan bercocok tanam, para petani yang merasa lebih pintar daripada masyarakat Nomad, datang ke Olonbulag dengan dukungan Bao Shunghui dan perlahan-lahan menghancurkan padang rumput dan membabat habis isinya termasuk Serigala.

Mungkin memang begitu sikap dasar manusia, mereka membinasakan semua yang mereka anggap pengganggu, contohnya serigala. Padahal manusia lah yang penganggu, menganggu kehidupan alam liar, mengganggu kehidupan yang penuh mistis, menganggu kampung halaman milik Serigala, hingga akhirnya manusia sendiri juga yang menanggung bencana alam yang tak tertahankan akibat dari sikap tak terkendali mereka.

Buku ini ditulis oleh Jiang Rong setelah dua puluh tahun meninggalkan Olonbulag dan menjadi bestseller seketika setelah penerbitannya. Bagi Jiang Rong, novel ini adalah persembahan khusus bagi Bilgee sang Bapak Padang Rumput, yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya mengenai alam dan serigala. Novel ini juga dipersembahkan oleh Jiang Rong untuk sang Serigala Kecil, sebagai ungkapan rasa maafnya karena telah merenggut kebebasan dan kemuliaan jiwa serigalanya. Namun tidak lupa juga novel ini ia jadikan tanda kasih sayang untuk sang Serigala Kecil tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s